About Biblikos

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on google
Share on whatsapp
Share on email

Pendiri Biblikos

Dr. Yonathan Purnomo, S.H., M.Th.

黄子

 

 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu.  Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau. (1 Tim 4:16)

Definisi Biblikos

            Kata Yunani βιβλικός (biblikos) dalam bahasa Inggris artinya adalah: “Biblical”, dan dalam bahasa Indonesia artinya adalah: “Alkitabiah”. Apa yang dimaksudkan dengan kata “βιβλικός”, “Biblical”, atau “Alkitabiah”? Tidak mudah untuk mendefinisikan kata tersebut, kecuali menghubungkannya dengan bidang teologi. Menurut kamus Merriam-Webster, definisi dari biblical theology adalah:[1]

“theology based on the Bible” specifically : theology that seeks to derive its categories of thought and the norms for its interpretation from the study of the Bible as a whole.

            Untuk memahami arti kata “βιβλικός” atau “biblical theology”, disini akan dikutib pendapat 3 orang tokoh besar dibidang teologi biblika, yang diadaptasi dari buku Teologi Biblika dalam Kehidupan Gereja oleh Michael Lawrence.[2]

Definisi Geerhardus Vos

            Geerhardus Vos, adalah “the Grandfather” dari teologi biblika kaum evangelis, telah mendefinisikan teologi biblika sebagai berikut: “Teologi Biblika adalah cabang dari Teologi Eksegetis yang berhubungan dengan proses penyataan diri Tuhan yang disimpan dalam Alkitab.”[3] Jadi apa artinya itu? Ini berarti bahwa teologi biblika tidak berfokus pada enam puluh enam kitab dalam Alkitab— “produk akhir dari [wahyu diri Tuhan],” tetapi pada “aktivitas ilahi” aktual Tuhan sebagaimana itu terungkap dalam sejarah (dan dicatat dalam enam puluh enam buku itu). Definisi teologi biblika ini memberi tahu kita bahwa wahyu pertama-tama adalah apa yang Tuhan katakan dan lakukan dalam sejarah, dan hanya yang kedua yang Dia berikan kepada kita dalam bentuk buku.

            Menurut Geerhardus Vos, teologi biblika bergerak di sepanjang poros sejarah penebusan. Artinya, salah satu ciri dasar teologi biblika adalah asas pengorganisasiannya bersifat historis. Teologi biblika bergerak di sepanjang poros sejarah penebusan. Ini terutama berkaitan dengan pembangunan dan oleh karena itu dengan pertanyaan tentang kontinuitas dan diskontinuitas, pergerakan dari benih ke pohon.

Definisi DA Carson

            Berikut definisi lainnya. Don Carson berkata bahwa “teologi biblika. . . berusaha untuk mengungkap dan mengartikulasikan kesatuan dari semua teks alkitabiah secara bersama-sama, dengan menggunakan terutama kategori dari teks-teks itu sendiri. “[4] Jadi apa artinya itu? Ini berarti bahwa teologi biblika secara khusus memperhatikan konteks sastra dan sejarah yang beragam dari cerita tersebut, dan dengan demikian berusaha untuk menghubungkan makna cerita dalam kerangka cerita itu sendiri. Misalnya, teologi biblika menelusuri perkembangan pengorbanan dan perjanjian, bukan karena istilah-istilah itu sangat relevan pada masa sekarang, tetapi karena ini adalah istilah dan agenda yang diberikan oleh cerita itu sendiri kepada kita.

            Seperti yang telah diringkas oleh Tom Schreiner, teologi biblika “menanyakan tema-tema apa yang penting bagi para penulis Alkitab dalam konteks sejarah mereka, dan upaya untuk membedakan koherensi dari tema-tema tersebut”.[5]

Definisi Stephen Wellum

            Berikut satu definisi lagi. Steve Wellum mengatakan bahwa teologi biblika “berpendapat bahwa membaca Alkitab sebagai Kitab Suci yang bersatu bukan hanya satu pilihan penafsiran di antara yang lain, tetapi yang paling sesuai dengan sifat teks itu sendiri, mengingat ilham ilahi. Dengan demikian, [teologi biblika], sebagai suatu disiplin, tidak hanya memberikan dasar untuk memahami bagaimana teks-teks dalam satu bagian Kitab Suci berhubungan dengan semua teks lainnya, tetapi juga berfungsi sebagai dasar dan penopang bagi semua teologia. . . . ”[6] Apa gunanya definisi ini? Artinya, teologi biblika tidak hanya tertarik pada fakta janji dan penggenapan profetik, jenis dan antitipe, tetapi pada demonstrasi hal-hal ini sehingga, terlepas dari keragaman sastra, sejarah, dan pengarang manusia, realitas sebuah cerita tunggal memancar dari satu pikiran Ilahi sesuai dengan kehendak ilahi dan kedaulatan tunggal jelas untuk dilihat semua orang. Seperti yang diamati oleh Don Carson dengan benar, ini berarti bahwa, seperti teologi sistematika, teologi biblika tidak hanya deskriptif. Melainkan membuat “pernyataan sintetis tentang sifat, kehendak, dan rencana Tuhan dalam penciptaan dan penebusan, termasuk karena itu juga sifat, tujuan, dan ‘kisah’ umat manusia.”

Definisi Penutup

            Seperti yang Anda lihat, tidak satu pun dari definisi ini yang saling eksklusif, tetapi masing-masing menekankan aspek yang berbeda dari apa yang kita sebut teologi biblika. Mungkin cara terbaik untuk memahami arti kata “biblical theologi” adalah dengan tetap berpegang pada definisi yang paling sederhana. Teologi biblika adalah upaya untuk menceritakan keseluruhan cerita dari seluruh Alkitab sebagai Kitab Suci orang Kristen. Oleh karena itu, ini adalah cerita yang memiliki klaim otoritatif dan normatif atas hidup kita, karena ini adalah kisah kemuliaan Allah dalam keselamatan melalui penghakiman.

Tujuan biblikos

            Banyak orang Kristen membaca Alkitab, tetapi dengan cara yang tidak Alkitabiah, sehingga mengakibatkan munculnya berbagai macam penafsiran dan ajaran baru yang tidak Alkitabiah juga. Kekristenan adalah satu, maka seharusnya ajarannya juga satu. Pemahaman ini penting untuk diketahui oleh semua orang Kristen, agar tidak keluar dari ajaran Kristus yang sejati (2 Yoh. 1:9). Oleh sebab itu, rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius menasehatkan: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu” (1 Tim. 4:16a). Dengan alasan ini, biblikos.com ingin mengajak kepada seluruh orang Kristen untuk kembali membaca dan menafsirkan Alkitab secara Alkitabiah, dengan satu tujuan, yaitu untuk menemukan maksud yang sesungguhnya dari penulisan Alkitab Kristen.

            Untuk itu, untuk menjaga agar semua tulisan (konten) dalam situs ini benar-benar Alkitabiah, tetapi tetap memiliki nilai-nilai akademis yang berbasis keilmuan, maka team managemen  biblikos.com sepakat untuk menetapkan dan memberlakukan tiga macam prinsip keilmuan yang akan menjadi pedoman dalam penulisan, yaitu:

1. Pedoman 1: Tulisan harus bersifat Biblical

Segala tulisan harus dikutip berdasarkan sumber otentik “The Origins of the Hebrew & Greek Bible”, bukan diambil berdasarkan alkitab terjemahan yang kemungkinannya memiliki kekurangan dan kelebihan dalam penafsiran, hal ini perlu dilakukan dengan tujuan agar hasilnya benar-benar biblical (alkitabiah). Pertimbangannya, jika sebuah penelitian diambil dari sumber Alkitab yang tidak asli, bagaimana mungkin hasilnya boleh dikatakan Alkitabiah? Disamping berbasis otentisitas Alkitab dalam bahasa aslinya, penulisan & penafsiran harus berdasarkan prinsip-prinsip kajian teologi biblika, sebagaimana telah didefinisikan di atas.

2. Pedoman 2: Tulisan harus bersifat Academical

Segala tulisan harus memenuhi kaidah-kaidah hermeneutika yang bersifat akademika dengan berbasiskan “scientific method”, hal ini perlu dilakukan dengan tujuan:1) Agar tulisan yang disajikan dalam situs ini benar-benar merupakan karya teologi yang bersifat scientific (ilmiah), dan 2) Agar orang lain dapat menguji dan membuktikan kebenaran tulisannya, dengan menggunakan cara-cara keilmuan yang sama

3. Pedoman 3: Tulisan harus bersifat Neutral

Segala tulisan dalam biblikos.com harus memenuhi prinsip netral dan tidak memihak (berafiliasi) kepada satu ajaran denominasi tertentu, melainkan harus benar-benar bersifat “biblical” dan “academical”. Untuk itu, maka biblikos.com akan menghindari segala tulisan yang bersifat doctrinal, hal ini perlu dilakukan dengan tujuan agar segala tulisan dalam konten situs ini dapat menjadi sumber “biblical” yang dapat digunakan oleh semua orang Kristen di dunia, apapun denominasinya.

            Sekali lagi, perlu ditekankan, bahwa: Kekristenan hanya ada satu! Gereja yang yang didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus dalam Matius 16:18 juga hanya satu. Gereja (ἐκκλησία) yang satu, seharusnya hanya memiliki satu ajaran. Semua orang yang menyebut dirinya Kristen, seharusnya adalah bersaudara antara satu dan lainnya, karena semuanya memiliki dasar yang sama, yaitu: “satu Tuhan, satu Iman dan satu Baptisan” (Ef. 4:5). Kepada semua orang Kristen dimanapun berada, marilah bersatu di dalam Tuhan, bersama biblikos.com mari kita kembali kepada kepada Alkitab. Membaca Alkitab secara Alkitabiah akan menyatukan orang Kristen, dan biarlah Alkitab yang adalah Firman Allah akan menjelaskan kebenaran-Nya melalui diri-Nya sendiri. Amin 

Footnote:

[1] Merriam-Webster, Kamus electronik online, tentang biblical theology. Lihat: https://www.merriam-webster.com/dictionary/biblical%20theology

[2] Michael Lawrence (PhD, Cambridge University; MDiv, Gordon-Conwell Theological Seminary) serves as the lead pastor of Hinson Baptist Church in Portland, Oregon. He is the author of Biblical Theology in the Life of the Church.

[3] Quoted in Vern Poythress, “Kinds of Biblical Theology,” Westminster Journal of Theology 70 (2008): 130.

[4] D. A. Carson, “Systematic Theology and Biblical Theology,” in New Dictionary of Biblical Theology, 100

[5] Thomas Schreiner, “Preaching and Biblical Theology,” The Southern Baptist Journal of Theology 10 (2006): 22.

[6]  Stephen J. Wellum, “Editorial: Preaching and Teaching the Whole Counsel of God,” The Southern Baptist Journal of Theology 10 (2006): 2–3

Referensi

_____ Merriam-Webster, Kamus electronik online, tentang biblical theology. Lihat: https://www.merriam-webster.com

_____ Quoted in Vern Poythress, “Kinds of Biblical Theology,” Westminster Journal of Theology 70 (2008).

_____ D. A. Carson, “Systematic Theology and Biblical Theology,” in New Dictionary of Biblical Theology.

_____ Thomas Schreiner, “Preaching and Biblical Theology,” The Southern Baptist Journal of Theology 10 (2006).

_____ Stephen J. Wellum, “Editorial: Preaching and Teaching the Whole Counsel of God,” The Southern Baptist Journal of Theology 10 (2006).

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on google
Share on whatsapp
Share on email
error: