ventuskiddo

Buku Mengungkap KONTROVERSI Doa Bapa Kami

Profil Penulis:

Dr. Yonathan Purnomo, S.H., M.Th.

黄子

 

(LULUSAN TERBAIK PROGRAM MAGISTER THEOLOGI di STTII SURABAYA 2021)
(LULUSAN TERBAIK PROGRAM DOKTOR THEOLOGI di STT KADESHI YOGYAKARTA 2023)

Dr. Yonathan Purnomo, S.H., M.Th., atau dikenal juga dengan nama Chinese Huangzi (黄 子) adalah seorang Penginjil, Pengkhotbah, Pengajar, Pelatih, dan Penulis Buku (author). Beliau lahir tahun 1964, menikah pada tahun 1992, telah dikaruniai 4 orang anak. Pada tahun 2019 beliau mengambil pendidikan teologi formal Program Magister Teologi di Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia di Surabaya (STTII Surabaya), dan lulus pada tahun 2021 dengan predikat sebagai lulusan terbaik.

Selain sebagai seorang Penginjil, Pengajar, Pengkhotbah, dan Penulis Buku (Author); Dr. Yonathan Purnomo, S.H.,  M.Th., juga merupakan founder (pendiri) dari lembaga Biblikos Biblical Center (BBC) International. Dan bersama dengan kawan-kawan seperjuangannya, beliau sedang mempersiapkan dan membangun pelayanan bersama untuk saling memperlengkapi para Hamba Tuhan di bidang teologi biblika. Informasi tentang kegiatan Biblikos Biblical Center dapat dilihat dalam situs www.biblikos.com dan yang ingin mengetahui visi dan misi dari lembaga ini, silahkan anda melihatnya di alamat: https://www.biblikos.com/vision-mission/

Konten Buku "Doa Bapa Kami"

Berisikan 200 Lebih Study Kata Yunani

Buku ini berisikan lebih dari 200 kata Yunani dan Ibrani, dan hampir separuhnya merupakan studi kata yang disertai dengan pembahasan mulai asal kata, derivasi (turunan), infleksi (perubahan bentuk kata), paradigma kata, dan arti kata leksikal berdasarkan kajian semantik, sintaksis, konteks, histori dan teologis

Berisikan Kajian Biblika Akademik (Ilmiah)

Buku ini dapat digunakan sebagai sumber referensi berbagai karya ilmiah di bidang teologi seperti: Disertasi, Tesis, Skripsi, Jurnal, Essay, atau Makalah teologi yang bersifat kajian akademik. Di dalam pembahasannya, buku ini melibatkan berbagai bidang ilmu teologi, antara lain: Ilmu Linguistik & Gramatika (Yunani dan Ibrani), Ilmu Hermeneutika, Ilmu Eksegesis, Ilmu Kritik Tekstual, dan disertai dengan Catatan Kaki dan lebih dari 250 lebih daftar pustaka.

Buku ini sangat cocok bagi semua orang Kristen, khususnya bagi para pembelajar dan para peneliti Alkitab, seperti misalnya: Teolog, Dosen Teologi, Apologet Kristen dan Mahasiswa Teologi.

Berisikan 2 Tahun Bahan Kotbah Biblika

Buku ini berisikan bahan khotbah biblika (non doktrinal) yang bisa diolah ke dalam bentuk Khotbah Biblika / Khotbah Ekspositori minimal untuk 2 tahun atau lebih.

Buku ini sangat cocok untuk para Pengkhotbah & para Hamba Tuhan.

Berisikan Jawaban Kontroversi dan Kontradiksi

Buku ini memberikan jawaban-jawaban biblika terhadap tuduhan-tuduhan tentang adanya kontroversi atau kontradiksi dalam Alkitab Kristen tentang perbedaan “Doa Bapa Kami” versi Matius dan Lukas yang disajikan berdasarkan Analisis Linguistik dari bahasa asli Alkitab kanon (berdasarkan analisis Gramatika, Leksikal, Struktural, Semantik, dan Sintaksis), Analisis Sejarah, Analisis Kritik Tekstual, Analisis Eksegetis dan Analisis Teologis.

Buku ini sangat cocok untuk para Apologet Kristen, Dosen Teologi, Guru Kristen, Debaters Awam dan khususnya para Hamba Tuhan untuk menjawab pertanyaan kritis dari jemaat cerdas.

Berisikan instrument Kajian Teologi

Buku ini dilengkapi dengan instrument kajian teologi dengan tujuan agar pembaca dapat belajar dan menganalisa sendiri konten kajian yang terdapat dalam buku “Doa Bapa Kami” secara komprehensif tanpa harus direpotkan untuk mencari instrument yang dibutuhkan. Adapun instrument kajian teologi yang dimaksudkan adalah:

  • Kamus Studi Kata Yunani
  • Teks Alkitab Kanon Yunani
  • Morphologi Gramatika Yunani
  • Interlinear Yunani – Indonesia
  • Terjemahan Lurus Biblikos

Buku ini sangat  cocok untuk para Teolog,  Dosen Teologi, Guru Kristen, Apologet Kristen, Mahasiswa Teologi, Hamba Tuhan, dan bahkan untuk semua orang yang ingin belajar dan meneliti Alkitab secara mandiri.

Pengantar

“Doa Bapa Kami” adalah doa yang paling banyak dilantunkan umat Kristen di seluruh dunia. Doa ini bukan hanya banyak dilantunkan, tetapi juga banyak menuai kontroversi. Orang-orang Kristen sering menerima tuduhan kontroversi karena bentuk Doa Bapa Kami yang berbeda pada Versi Matius dan Lukas. Mengapa Matius dan Lukas menulis “Doa Bapa Kami” yang berbeda? Mengapa Matius dan Lukas menulis “Doa Bapa Kami” berbeda? Apakah Tuhan Yesus Kristus dengan sengaja mengajarkan dua versi “Doa Bapa Kami” yang berbeda kepada Matius dan Lukas?

Buku “Doa Bapa Kami” karya Ev. Huangzi Yonathan Purnomo hadir untuk menolong kita di dalam menjawab (secara biblika) tentang berbagai tuduhan “kontroversi” dan “kontradiksi” terhadap Alkitab; untuk lebih mengenal “Doa Bapa Kami” lebih dalam, dan yang terpenting adalah untuk mengungkap rahasia yang ada di dalamnya. Pemahaman ini sangat penting untuk menguatkan iman kita melalui doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri ketika di bumi.

Buku ini memberikan jawaban-jawaban biblika terhadap tuduhan tentang adanya kontroversi atau kontradiksi dalam Alkitab Kristen, yang disajikan berdasarkan kajian akademik berdasarkan “Analisis Linguistik” dari bahasa asli Alkitab kanon (berdasarkan analisis Gramatika, Leksikal, Struktural, Semantik, dan Sintaksis),  “Analisis Sejarah,” “Analisis Kritik Tekstual,” “Analisis Eksegetis” dan “Analisis Teologis.”

Buku ini sangat cocok untuk para “Teolog,” “Apologet Kristen,” “Dosen Teologi,” “Guru Kristen,” “Debaters Awam” “Mahasiswa Teologi” dan khususnya untuk para “Hamba Tuhan” untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis dari jemaat yang cerdas.

Dengan pertolongan dan kasih karunia dari Tuhan kita Yesus Kristus, kami dari team Biblikos Biblical Center (BBC) berdoa: “kiranya anda sekalian yang sungguh-sungguh mencari Tuhan akan diberkati, Amin.”

Daftar Isi

1. Terjemahan Yang Berbeda

Berdasarkan teks Alkitab Kanon Perjanjian Baru bahasa Yunani, “Doa Bapa Kami” bukanlah “doa permohonan,” melainkan “doa ucapan syukur.” Hal ini dapat dilihat dengan mudah dari penggunaan kata kerja kala “aorist,” yang menunjukkan bahwa “tindakan yang dimaksudkan telah terjadi” (telah selesai secara sempurna di masa lampau). Implikasi dari perbedaan terjemahan bentuk aorist “yang telah terjadi” menjadi bentuk “eskatologis yang belum terjadi” tentu tidak Alkitabiah.

Baca selengkapnya kontradiksi terjemahan “Doa Bapa Kami” yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus dalam buku kajian Ev. Yonathan Purnomo, M.Th., yang diulas sedemikian rupa dari berbagai aspek keilmuan teologi secara akademik (ilmiah). Dalam buku ini dengan sangat terbuka telah dijelaskan berbagai kajian teologis, khususnya berdasarkan:

  • Analisis gramatika bahasa Yunani,
  • Analisis kontekstual,
  • Analisis sejarah
  • Analisis kritiks tekstual,
  • Analisis eksegetis dan
  • Analisis teologis.

Silahkan baca dan bandingkan dengan terjemahan “Doa Bapa Kami” yang selama ini telah anda baca.

2. Sample Studi Kata

Dalam buku “Doa Bapa kami,” setidaknya membahas 200 lebih kata Yunani dan Ibrani. Hampir kira-kira 100 kata Yunani diuraikan secara terperinci berdasarkan parsing dan arti tekstualitas, transitivitas, modus, kala, diatesis dan kasusnya. Untuk studi kata Yunaninya, buku ini mengungkap asal kata dan turunannya, infleksi (perubahan bentuk kata dalam berbagai modus, kala, diatesis dan kasus). Ini akan menjadi bahan penggalian Alkitab yang dahsyat, baik untuk tujuan khotbah atau untuk kajian teologis dikampus. Berikut diberikan sebuah contoh dari pembahasan studi kata Yunani ἁμαρτίας (amartias) yang digunakan dalam Alkitab Perjanjian Baru. Apa arti sesungguhnya dari kata benda ἁμαρτίας (amartias)? Apa yang dimaksudkan dengan kata dosa? Jika dosa menunjuk kepada perbuatan, mengapa ada dosa asal? Dalam buku ini dijelaskan secara tuntas oleh Ev. Yonathan Purnomo, M.Th., disertai dengan sumber referensi dari asal katanya sebagaimana diperlihatkan dalam contoh di bawah ini.

b-0051 ἁμαρτίας (hamartias)

PARSING

Kata Benda ἁμαρτίας (hamartias)
Arti “dosa,” “kesalahan” atau “berada pada tempat yang salah.”
Tekstualitas Berdasarkan hubungan antar teks, struktur dan konteksnya, maka penggunaan kata benda ἁμαρτίας (hamartias) adalah menunjukkan kepada “segala dosa,” baik “dosa” yang ditimbulkan karena tindakan yang dilakukan secara aktif, maupun “dosa” yang terjadi sebagai akibat dari tindakan secara pasif (tidak melakukan yang baik, adalah dosa).
Morphologi N-APF
Akusatif Kasus akusatif biasanya menunjukkan sebagai obyek.
Jumlah Jamak.
Gender Feminin.
Kata Dasar ἁμαρτία (hamartia).

STUDI KATA

Kata Benda

ἁμαρτίας (hamartias)

Asal Kata
αμαρτανω
(hamartano)

Kata benda ἁμαρτία (hamartia) berasal dari kata kerja αμαρτανω (hamartano) yang menggambarkan “kehilangan” dalam arti “kehilangan target” (sasaran), “kehilangan jalan” atau” kehilangan arah” (bukan bicara tentang kehilangan barang atau seseorang). Kata kerja αμαρτανω (hamartano) intinya sedang menjelaskan tentang kontras antara “tujuan dan hasil,” “teori dan aplikasi” atau “maksud dan realisasi.”

Dalam Yunani klasik ada 2 buah cerita (legenda) yang menggambarkan pengertian (maksud) paling awal dari kata kerta αμαρτανω (hamartano):

1.Pertama, legenda tentang seorang ahli pelempar tombak Yunani yang sombong yang bernama Pandarus. Dalam Iliad (Il. 5.287), Homer menggambarkan tentang kegagalan Pandarus ketika melemparkan tombaknya ke arah Diomedes meleset. Dari legenda inilah kemungkinan kata kerja αμαρτανω (hamartano) diartikan “meleset.”
2.Kedua, legenda dari Athenaeus (abad ke-3) yang mengutip tulisan dari Aeschylus (abad ke-6 SM) yang menceritakan sebuah insiden pada saat perjamuan makan ada seseorang yang melemparkan bejana berbau busuk ke kepalanya, tetapi untungnya lemparan orang tersebut “meleset.” Selanjutnya diceritakan bahwa bejana berbau busuk itu hancur karena benturan dan membuat seluruh ruangan berbau sesuatu yang mengerikan (Deip. 1.30). Berdasarkan legenda ini diperoleh gambaran yang lebih lengkap dari kata kerja αμαρτανω (hamartano). Pengertiannya bukan ditujukan untuk tindakan melempar yang “meleset,” melainkan ditujukan untuk pengertian “mencemari” seluruh ruangan dengan bau busuk yang mengerikan. Filosofi dari legenda Aeschylus ini tidak mempersoalkan tentang kegagalan “lemparan yang tepat” atau “meleset,” melainkan fokus pada akibatnya yang ditimbulkan oleh lemparan itu, yaitu “mencemari seluruh ruangan dengan bau busuk.”

Dengan berjalannya waktu akhirnya pengertian kata kerja αμαρτανω (hamartano) juga ikut berevolusi, sehingga memasukkan pengertian baru yang berhubungan tentang perbedaan, misal: “perbedaan antara yang ingin diucapkan dengan apa yang akhirnya diucapkan oleh seseorang (keseleo lidah)” atau “kegagalan seseorang di dalam mempertahankan kualitas yang telah seharusnya (das solen) dengan kualitas yang terjadi (das sein).”

Pada perkembangan selanjutnya, pengertian kata kerja αμαρτανω (hamartano) mulai dikaitkan antara tindakan yang dilakukan seseorang dengan “kemutlakan ideal” (misal: standar hukum, aturan, adat, dll), dari sinilah kemudian kata kerja αμαρτανω (hamartano) diartikan sebagai “kesalahan” atau perbuatan “dosa.”

Padanan untuk kata kerja Yunani αμαρτανω (hamartano) dalam bahasa Latin adalah kata kerja “erro,” yang memiliki arti yang persis sama dengan kata kerja Yunani, taitu: “meleset dari target,” “kesasar” atau “menyimpang” dari rute ke tujuan (yang benar).

Dalam Alkitab Perjanjian Baru kata kerja αμαρτανω (hamartano) dipakai sebanyak 43 kali.

Paradigma

Paradigma awal dari kata benda ἁμαρτία (hamartia) adalah “menyimpang dari target” atau “menyimpang dari jalan yang seharusnya (yang benar),” tetapi dalam perkembangannya seiring dengan perubahan makna dari kata kerja αμαρτανω (hamartano) maka paradigma kata benda ἁμαρτία (hamartia) turut berubah menjadi “kesalahan,” (dalam pengertian kriminal) dan “dosa.”

Dalam Yunani klasik ada 2 buah cerita (legenda) yang menggambarkan pengertian (maksud) paling awal dari kata kerta αμαρτανω (hamartano):

Dengan berjalannya waktu akhirnya pengertian kata kerja αμαρτανω (hamartano) juga ikut berevolusi, sehingga memasukkan pengertian baru yang berhubungan tentang perbedaan, misal: “perbedaan antara yang ingin diucapkan dengan apa yang akhirnya diucapkan oleh seseorang (keseleo lidah)” atau “kegagalan seseorang di dalam mempertahankan kualitas yang telah seharusnya (das solen) dengan kualitas yang terjadi (das sein).”

[Kata benda Yunani ἁμαρτία (hamartia) dalam bahasa Latin adalah “sons,” yang berarti “bersalah” atau “kriminal” (dalam bahasa Inggris adalah “sin,” dalam bahasa Belanda adalah “Zijn” dan dalam bahasa German adalah “sein”)].

Dalam Alkitab Perjanjian Lama, kemunculan pertama kali kata benda “dosa” bukan pada saat Adam dan Hawa makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat, melainkan terdapat dalam Kejadian 4:7, yaitu ketika Allah memperingatkan Kain sebelum Kain membunuh adiknya Habel.

Ketika Adam dan Hawa memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat, jelas itu merupakan sebuah pelanggaran yang disengaja karena sebelumnya Allah telah melarangnya (Kej. 2:16-17); tetapi ketika Kain membunuh adiknya Habil, pada saat itu belum ada larangan membunuh dari Tuhan. Jika demikian logikanya, apakah pembunuhan kain terhadap Habil boleh dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum Tuhan (hukum mana yang dilanggar)? Apakah yang Allah maksudkan dengan kata “dosa” dalam Kejadian 4:7?

Dalam Alkitab Perjanjian Baru, dalam Efesus 2:1 dengan jelas Paulus membedakan antara “pelanggaran” dan “dosa,” yang bunyinya demikian: “dan kalian yang adalah sedang (menuju) kematian karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa (kalian)” [και υμας οντας νεκρους τοις παραπτωμασιν και ταις αμαρτιαις (kai umas ontas nekrous tois paraptōmasin kai tais amartiais)]

Pada jaman Yunani klasik, pemahaman tentang “kesalahan” dan “dosa” masih bersifat “statis” dan “intrinsik,” walaupun kadang ada kejadian bahwa “kesalahan” dan “dosa” dipaksakan oleh seseorang atau otoritas yang menyatakan dia bersalah.

Berbeda dengan konsep jaman modern di mana seseorang yang berbuat “kesalahan (kriminal)” tetap memiliki “status belum bersalah” sampai ia dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Itu artinya, seseorang menjadi “berdosa” bukan karena melakukan perbuatan yang salah, melainkan karena ia “ketahuan telah melakukan perbuatan yang salah” atau karena “dinyatakan bersalah” oleh otoritas pengadilan.

Tentu saja konsep “kesalahan” dan “dosa” yang demikian tidak sesuai dengan konsep Alkitab, karena Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa seseorang menjadi “berdosa” oleh sebab telah melakukan pelanggaran terhadap hukum Tuhan, bukan karena (jika) ketahuan telah melakukannya. Yang menarik disini adalah bahwa “pelanggaran berhubungan dengan perbuatan,” sedangkan “untuk menjadi berdosa tidak harus melakukan pelanggaran.” Dalam Alkitab terdapat beberapa kasus yang dapat menjelaskan perbedaan antara “pelanggaran” dan “dosa,” misalnya:

  • Tentang konsep “dosa ontologis” atau “dosa asal,” yang menyatakan bahwa semua manusia telah dilahirkan dalam keadaan “salah” atau “berdosa.” Pemazmur dengan tegas mengatakan: “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” (Mazmur 51:5; Ef. 2:3).
  • Konsep “Dosa” dalam Alkitab perjanjian Baru tidak harus melakukan “pelanggaran atau kejahatan,” bahkan ketika seseorang “diam” dan “tidak melakukan apapun,” maka seseorang tersebut sudah berdosa, misalnya dalam Yakobus 4:17, yang berbunyi: “seseorang yang tahu untuk melakukan yang baik dan tidak melakukannya adalah berdosa,” [ειδοτι ουν καλον ποιειν και μη ποιουντι αμαρτια (berdosa) αυτω εστιν (eidoti oun kalon poiein kai mē poiounti amartia autō estin)].

Arti Kata

Arti kata benda ἁμαρτία (hamartia) yang lazim digunakan saat ini adalah “dosa” atau “kesalahan.”

Pengertian dari kata benda ini bukan hanya menggambarkan “dosa” atau “kesalahan” yang terjadi sebagai akibat dari perbuatan melanggar hukum Tuhan atau karena melakukan kejahatan, tetapi juga termasuk berbagai akibat dari “tindakan pasif (tidak melakukan apa-apa)” atau karena “keberadaan pada tempat yang salah” (keadaan terhilang atau tersesat).

Tindakan pasif adalah “diam tidak melakukan apapun yang baik” (Yak. 4:17), sedangkan keberadaan pada tempat yang salah adalah “hidup diluar Kristus,” yang didalam Alkitab Perjanjian baru digolongkan sebagai “orang-orang yang terhilang” atau “orang-orang yang tersesat.”

Dalam Alkitab Perjanjian Baru, kata benda ini digunakan sebanyak 174 kali,

Melalui buku ini, anda akan mempelajari setiap kata Yunani yang digunakan dalam Alkitab secara lebih mendetail, karena pembahasan linguistik dilakukan berdasarkan kajian teologi dan eksegesis.

3. Sample Kajian Gramatika

Buku ini juga dilengkapi dengan kajian gramatika terhadap kata-kata yang dianggap penting, dan dilengkapi dengan catatan kaki yang menjelaskan struktur bahasa Yunani koine, sehingga pembaca dapat belajar atau menguji sendiri tentang kebenaran dari setiap kata Yunani yang dijelaskan dalam buku ini. Sebagai contoh, dalam buku ini diberikan contoh cuplikan seperti dibawah ini:

Berdasarkan bahasa Yunani ada dua partikel negatif untuk menyatakan sebuah kalimat negatif, yaitu partikel negatif οὐ (ou) untuk kalimat indikatif, dan partikel negatif μὴ (me) untuk kalimat subjungtif (lihat penjelasan dalam catatan kaki).[1]  Berdasarkan gramatikanya, penggunaan partikel negatif μὴ (me) sebelum kata kerja subjungtif sedikitnya memiliki delapan pengertian (lihat penjelasan dalam catatan kaki).[2] Dari kedelapan pengertian yang dikandung dalam kalimat negatif subjungtif, kemungkinan manakah yang dimaksudkan oleh petisi keenam Doa Bapa Kami? Apakah itu kalimat negatif biasa, ataukah itu kalimat larangan?

Kalimat Negatif biasaKalimat Larangan
Engkau telah tidak membawa kami dalam pencobaan Janganlah engkau membawa kami dalam pencobaan

Di dalam bahasa Yunani memiliki beberapa cara untuk mengatakan “jangan” (melakukan sesuatu). Salah satu caranya adalah dengan menggunakan kata negatif dengan bentuk kalimat present aktif (imperatif) yang implikasinya adalah “stop” (melakukan sesuatu). Dalam berbagai terjemahan Alkitab yang ada, biasanya bentuk kalimat negatif “tidak” hanya digunakan dalam modus indikatif, sedangkan diluar indikatif selalu diterjemahkan sebagai “jangan” atau “stop.”

[1] Dalam bahasa Yunani, partikel negatif οὐ (ou) hanya digunakan untuk modus indikatif, sedangkan partikel negatif μὴ (me) digunakan untuk modus selain indikatif (subjungtif, imperatif, optatif, infinitif dan participle).

[2] Dalam buku-buku literatur bahasa Yunani – Inggris, kalimat subjungtif hanya digunakan untuk kala present, aorist dan perfect, yang mencakup 8 kejadian: (1) “Future Condition” untuk menyatakan “ketidakpastian terpenuhinya syarat yang ditentukan.” Kalimat ini biasanya ditandai dengan penggunaan (εἰ+) dengan subjungtif dalam protasis (klausa “jika”), dan apodosis (klausa “kemudian”) dengan modus indikatif; (2) “Indefinite Clauses” biasanya mengacu pada kemungkinan atas kejadian di masa depan (kemungkinan terjadi atau ketidakmungkinan terjadi). a) “Siapapun” atau “apapun,” kalimat ini biasanya ditandai dengan penggunaan kata ganti relatif (relative pronoun) dan partikel ἀν (an); b) “Dimanapun” atau “setiap kali,” ditandai dengan penggunaan ὁπου ἀν (hopu an), ὁπου ἐάν (hopu ean) atau ὀταν (hotan) [ὀτε  ἀν]; c) “sampai,” ditandai dengan penggunaan kata ἑως (heos), ἀν ἑως (an heos), ἑως οὑ (heos ou) [οὑ adalah genetif dari relatif pronoun yang menyiratkan tentang χρόνου]. (3) Untuk menyatakan “klausa tujuan” atau “klausa akhir” (klausa yang tidak diketahui tujuan akhirnya tercapai atau tidak), yang ditandai dengan penggunaan kata ἱνα (hina), ὁπως (hopos) yang keduanya dapat diterjemahkan sebagai “sehingga,” “yang,” “agar” atau “untuk.”; (4) Untuk klausa kata benda ditandai dengan penggunaan kata ἱνα (hina); (5) Untuk menyatakan klausa “subjungtif hortatori,” (tidak diketahui apakah akan disetujui atau tidak); (6) untuk menyatakan klausa “subjungtif deliberatif,” (untuk menanyakan kepada diri sendiri atau kepada orang lain apa yang harus dilakukan sebelum melakukan sesuatu); (7) untuk menyatakan suatu “larangan untuk memulai suatu tindakan” atau “perintah untuk tidak memulai suatu tindakan” (tidak diketahui apakah perintah larangan itu akan ditaati atau tidak), kalimat ini selalu menggunakan partikel negatif μὴ (me); (8) terakhir adalah untuk menyatakan “empati negatif di masa depan,” yaitu untuk menyatakan sesuatu yang tidak akan terjadi, kalimat ini biasanya dinyatakan dengan penggunaan partikel negatif μὴ (me) + subjungtif aorist [atau dapat juga dinyatakan dengan μὴ (me) + indikatif future].

4. Sample Kritik Tekstual

Dalam beberapa hal, sepertinya dalam Alkitab memang terdapat beberapa “perbedaan teks” ataupun “perbedaan struktur gramatika” (dalam berbagai manuskrip yang ditemukan). Buku ini memberikan jawaban atas beberapa tuduhan tentang adanya ketidak-akuratan pada Alkitab. Di bawah ini diberikan sebuah contoh tentang mengapa terjadinya perbedaan manuskrip, dan bagaimana menentukan manuskrip yang sesuai dengan autograph sebagaimana ditunjukkan pada contoh di bawah ini:

Pada klausa yang kedua dari petisi yang kelima digunakan kata kerja αφιεμεν  aphiemen),[1] yang secara gramatika dalam bentuk prensent aktif indikatif, yang menunjukkan bahwa subyek (pelaku) yang melakukan tindakan secara aktif, yaitu tindakan yang dilakukan secara terus menerus sebagai kebiasaan. [Mengingat berapa kali Alkitab PB menyoroti poin ini, pembaca tentu disarankan untuk menganggap serius peringatan yang diberikan Tuhan tentang perlunya menunjukkan belas kasihan kepada orang lain, jangan sampai seseorang memutuskan diri dari perkenanan Tuhan sendiri].              

 [1] Semua manuskrip Yunani (dan versi lainnya) menggunakan αφιομεν (aphiomen) [termasuk 1 DEGKLMSUW * f13 565 1424 it vg sy-c sa bo; Didache] yang secara tradisional mengekspresikan kebiasaan. Beberapa manuskrip terkait seperti (ℵ* BZ f1 pc vg-mss) menggunakan bentuk aorist, beberapa mengklaim Peshitta untuk mendukung aorist, tetapi seperti yang dicatat dengan tepat oleh Cook (54–56), versi itu “memiliki [šəḇaqn] bentuk jamak orang pertama dari Peal, yang bagaimanapun berarti saat ini ketika menunjukkan kebiasaan atau kondisi.” Poin ini lebih lanjut didukung oleh fakta bahwa Peshitta memiliki kata yang sama dalam Lukas 11:4, di mana semua manuskrip Yunani memiliki bentuk sekarang (present). Bloomfield (GNT, 1:44-5) berkomentar, “Saya hampir tidak dapat meragukan … bahwa adalah perubahan yang berasal dari Kritikus Alex[andrian], yang berpikir bahwa ekspresi adat Aorist akan menjadi bahasa Yunani yang lebih baik.” Sebaliknya, yang lain mengklaim bahwa present tense adalah harmonisasi dengan Lukas 11:4 (lih. Metzger, 13, dkk.), tetapi hal itu tidak meyakinkan. Untuk mana yang lebih mungkin: bahwa sekitar enam manuskrip Yunani yang terkait dari sebelum abad ke-14 harus menggunakan cara alternatif dan lebih halus untuk mengekspresikan kebiasaan Koine yang ada, atau bahwa semua manuskrip Yunani lainnya dan bahkan asal Yunani dari mana semua terjemahan berikutnya diturunkan harus diselaraskan teks jauh dari versi yang lebih terkenal. Kurangnya saksi untuk dikombinasikan dengan aliansi mereka yang sering di tempat lain menunjukkan bahwa mereka kemungkinan hanya mewakili intrusi yang relatif terlambat dan terlokalisasi ke dalam tradisi manuskrip yang karenanya harus ditolak.

5. Kontak

Bagi anda yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut tentang buku ini, silahkan kontak admin Biblikos Biblical Center (BBC) Indonesia:  

Buku lain yang akan diterbitkan:

Terbit tahun 2022 (Soon)

Terbit tahun 2022 (Soon)

Segala Kemuliaan

hanya untuk Tuhan Kita

Yesus Kristus,

Amin.

error: